Khotbah Jum’at
Sayyidina Amirul Mu’minin
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Tanggal 11 Nubuwwah 1390
HS/Novmbr 2011
Di Mesjid Baitul Futuh,
London.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ
الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ
الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا
الضَّالِّيْنَ (٧)
Kekerasan-kekerasan
terhadap para Ahmadi khususnya di
Pakistan terus-menerus dilakukan oleh pihak lawan semenjak National Assembly (Majelis Nasional) Pakistan
mengeluarkan undang-undang pada tahun 1974 yang memutuskan orang-orang Ahmadi sebagai bukan Islam. Kemudian Jenderal Zia-ul-Haq sebagai Kepala
Negara yang diktator telah menggunakan kesempatan untuk menambah memperketat
undang-undang itu sambil berkata, “Orang-orang Ahmadi ini [mereka menyebutnya
bukan ‘orang Ahmadi’ tetapi orang ‘Qadiani’ atau ‘Mirzai'] tidak mempunyai arti
apa-apa, mereka melanggar qanun (undang-undang)
yang kita keluarkan. Kepada mereka harus ditanamkan anggapan bahwa mereka keluar dari umat Muslim. Katakan kepada mereka, ‘Kalian (para Ahmadi) satu dengan yang lain harus mengatakan bahwa kamu
bukan Islam!’ Katakan kepada mereka, ‘Kalian tidak
boleh membaca Kalimah!’ Katakan kepada mereka, ‘Kalian tidak boleh mengucapkan “assalamu ‘alaikum” kepada siapa pun!’
Katakan kepada mereka, ‘Kalian jangan bergerak walaupun sedikit saja yang secara umum bila dilakukan mirip dengan orang menyatakan diri sebagai orang Islam. Akan tetapi kalian membandel tidak menghiraukan semua peringatan itu dan kalian tetap berkata dan beramal seperti yang harus dilakukan oleh orang-orang Muslim sejati. Oleh sebab itu terpaksa kami akan mengurung kalian di dalam penjara. Atau karena kalian tidak mematuhi ordonansi dan karena kalian satu dengan yang lain saling menyebut diri kalian memiliki hubungan dengan Hadhrat Khatamul Anbiyaa Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kalian dikenakan hukuman mati. Mengapa kalian berani melanggar undang-undang padahal jumlah kalian tidak banyak dan kalian telah melukai hati mayoritas orang-orang Muslim dengan menyatakan diri kalian Muslim!?’”
Katakan kepada mereka, ‘Kalian jangan bergerak walaupun sedikit saja yang secara umum bila dilakukan mirip dengan orang menyatakan diri sebagai orang Islam. Akan tetapi kalian membandel tidak menghiraukan semua peringatan itu dan kalian tetap berkata dan beramal seperti yang harus dilakukan oleh orang-orang Muslim sejati. Oleh sebab itu terpaksa kami akan mengurung kalian di dalam penjara. Atau karena kalian tidak mematuhi ordonansi dan karena kalian satu dengan yang lain saling menyebut diri kalian memiliki hubungan dengan Hadhrat Khatamul Anbiyaa Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kalian dikenakan hukuman mati. Mengapa kalian berani melanggar undang-undang padahal jumlah kalian tidak banyak dan kalian telah melukai hati mayoritas orang-orang Muslim dengan menyatakan diri kalian Muslim!?’”
Itulah ringkasan undang-undang Negara Pakistan yang
diberlakukan terhadap orang-orang Ahmadi di sana. Apa yang
selalu mereka usahakan sampai sekarang sambil berkata dengan nada keras adalah
mendesak orang-orang Ahmadi untuk meninggalkan iman mereka. Mereka selalu dan sedang melakukannya.
Hal itu bukan perkara baru. Hal semacam itulah yang kita jumpai dalam sejarah agama-agama. Manusia Fira’un yang muncul di setiap
zaman selalu berkata demikian kepada para nabi dan kepada manusia-manusia
Ilahi. Topik ini seperti yang dinyatakan Fira’un yang terekam dalam Alquranul Karim saat
ini juga sedang berlaku, إِنَّ
هَؤُلاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ * وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُونَ
Inna haa-ulaa-i lasyirdzimatun
qaliiluun wa innahum lanaa laghaafiluun – “Sesungguhnya
mereka itu hanyalah segolongan kecil yang tidak berarti. Dan walaupun demikian
mereka itu telah menimbulkan kemarahan kepada kami.” (Asy Syu’ara, 26 :
55-56)
Jadi,
kita
orang-orang Ahmadi apabila menyaksikan penentangan ini maka iman kita bertambah
segar sebab tarikh para nabi sedang terulang kembali di depan mata kita. Memang jumlah kita sekarang masih sedikit dan kita
tidak mempunyai haitsiyyat (nilai) apa-apa
pada pandangan dunia. Kita tidak merasa tersinggung atau
marah dikatakan bahwa kita ini sedang berbuat dosa atau berbuat kejahatan,
sedang melakukan pelanggaran undang-undang yang merugikan Negara, atau merampas
hak-hak Pemerintah atau kita melakukan perbuatan terorisme. Sedangkan mereka
merasa tersinggung oleh kita disebabkan kita sedang mencintai dan setia (mematuhi) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan dalam
menunjukkan kecintaan terhadap Negara, kita sedang menegakkan keamanan di dalam negeri. Dan mengapa kita tidak mau merampas dan
menjarah hak-hak makhluk Allah Ta’ala.
Mengapa kita tidak mau bergabung dengan pelaku terorisme yang dapat
menciptakan suasana zalim (aniaya)
dan barbariyyat (di luar
batas kemanusiaan). Maka jawaban kita kepada mereka hanyalah bahwa kita
telah beriman kepada Imam Zaman ini, ‘asyiq
shadiq’ - pencinta hakiki Rasulullah saw, Mahdi Mau’ud dan Masih Mau’ud
yang datang sesuai dengan nubuwatan beliau saw; yang datang ke dunia sambil menjalankan
sunnah Majikan dan Junjungan beliau yang ditaati (yaitu Nabi Muhammad saw),
mengajarkan mahabbat (kecintaan), piyaar (kasih sayang), aman (keamanan), rekonsiliasi dan cinta
damai kepada dunia. Maka, ketika kita telah baiat kepada Imamuz Zaman yang telah datang ini lalu
senantiasa mengerjakan semuanya itu maka kita sedang berusaha menunaikan haq
(kewajiban) sebagai pengikut aqaa
(Junjungan) dan sayyid (Baginda)
kita, Hadhrat Muhammad Mushthafa saw. Kita berusaha menegakkan contoh yang
telah dilakukan orang-orang Muslim di abad
permulaan. Keberanian yang kita miliki, dan perasaan tidak takut mati
menghadapi segala jenis ancaman, telah diberikan kepada kita oleh Imam Zaman
yang telah diutus oleh Allah Ta’ala
untuk kebangkitan Islam kedua kali. Keberanian kita menjaga iman lebih penting
dari kehidupan pribadi telah diberikan oleh ‘asyiq
shadiq’ - pencinta hakiki Hadhrat Nabi saw yang telah membawa iman dari
bintang Tsurayya ke bumi. Jadi, apabila kita sudah siap untuk menyerahkan
segala jenis pengorbanan, kita siap selalu karena sudah paham betul bahwa kita
adalah pengikut Imam itu yang kepadanya Allah Ta’ala berfirman, "جري الله
في حلل الأنبياء"
Jariyullah fii hulalil anbiyaa –
“adalah
Juara Allah (Rasul Tuhan) dalam jubah semua Nabi.” [2] Kemudian dalam
‘Barahin Ahmadiyyah’ bagian 5
Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan mengenai
wahyu tersebut. Beliau bersabda,
”Maksud dari wahyu ini adalah sejak Adam ‘alaihissalam sampai akhir berapa pun
jumlah para Nabi ‘alaihimussalam yang
diutus oleh Tuhan, baik nabi Israili atau nabi bukan Israili, sebagian
peristiwa-peristiwa yang khusus dari mereka semua atau sebagian dari
sifat-sifat yang khusus dari mereka semua telah diberikan kepada hamba yang
lemah ini. Dan tidak ada seorang Nabi pun yang telah berlalu yang kekhususannya
atau peristiwa-peristiwa khususnya tidak diberikan kepada hamba yang lemah ini.
Allah Ta’ala telah memberitahu kepadaku bahwa gambaran fitrat semua Nabi terdapat dalam fitratku.” [3]
Maka jika sebagian fitrat dan
peristiwa dari setiap Nabi telah diberikan kepada beliau maka bagian dari
peristiwa-peristiwa penentangan juga akan sama-sama
dialami oleh Jemaat beliau. Akan tetapi aksi penentangan atau undang-undang yang mereka buat
sedikitpun tidak dapat menggoyahkan Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Sebab, bersamaan
dengan itu Allah Ta’ala telah memberi
kabar suka kepada beliau as tentang kemenangan dan kejayaan yang telah diraih
oleh para nabi. Bahkan kemenangan yang lebih besar dari itu telah
diberitahukan kepada beliau. Dalam sebuah ilham, Dia berfirman kepada beliau, بشرى لك يا أحمدي ‘Busyra laka yaa ahmadii’ – “Bersuka citalah engkau hai Ahmad-Ku!” [4]
Jadi,
undang-undang Negara, kekerasan dan kezaliman itu sama-sekali tidak dapat
menghalangi kemajuan Jemaat Masih Mau’ud as. Akhir yang baik dan
terbukanya pintu-pintu kemenangan telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala kepada beliau. Walau kita harus melalui masa-masa
kesulitan dan penganiayaan di berbagai tempat. Kabar-kabar
suka tentang kemenangan itu telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala
berulang kali kepada beliau dalam berbagai segi. Dalam kitab beliau ‘Asmaani Faishlah’ – “Keputusan Samawi’,
Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,
“Dengan
kata-kata yang jelas sekali Allah Ta’ala berfirman kepada saya, أنا الفتّاح أفتح لك. ترى نصرا عجيبًا، ويخرّون على
المساجد. ربّنا اغفر لنا إنا كنا خاطئين ‘Anal fattaahu aftahu laka- taraa nashran ‘ajiiban wa yukhirruuna
‘alal masajidi – rabbana ghfir lanaa innaa
kunnaa khaathi-iin.’ – “Aku adalah
Maha Pemenang. Aku akan memberi
kemenangan kepada engkau. Engkau akan menyaksikan pertolongan yang sangat
ajaib.
Orang yang keadaan nasib baiknya sudah ditakdirkan akan menjatuhkan diri di tempat
mereka sujud sambil berkata, ‘Hai Tuhan kami! Maafkanlah dosa-dosa kami sebab
kami bersalah.’”[5]
Sebuah lagi ilham yang beliau terima, لك الفتح ولك الغلبة ‘Lakal fathu wa lakal ghalabah’ – “Bagi engkau tersedia
kemenangan dan bagi engkau keunggulan.” [6]
Jadi,
di balik aksi kekerasan dan penentangan serta pembuatan undang-undang larangan
yang diterapkan terhadap khususnya Jemaat Pakistan, kemudian Jemaat-Jemaat Indonesia,
Malaysia atau Jemaat di beberapa Negara Muslim lainnya Allah Ta’ala telah memberi kabar suka kepada
kita tentang turunnya berbagai kemajuan dan kejayaan lebih besar dari kezaliman
yang diderita oleh Mazhlum Ahmadi
(Ahmadi yang teraniaya) kita. Dengan karunia Allah Ta’ala keberanian yang telah ditanamkan oleh Hadhrat Imam Zaman dalam
kalbu kita, sedikitpun tidak tergoyahkan oleh kezaliman dan kesusahan yang
mereka timpakan kepada kita. Jika ada sebuah Jemaat duniawi lain, pasti mereka
dengan mudah dipaksa agar bertekuk lutut di hadapan orang-orang zalim itu. Atau
mereka akan berlaku munafik di hadapan lawan-lawan mereka. Akan tetapi dengan
karunia Allah Ta’ala, Jemaat
Ahmadiyah bukan hanya bertahan melawan kezaliman, bahkan mereka tetap bertahan
dengan sabar dan terus melangkah diatas jalan kemajuan, sekalipun keadaan
mereka yang sangat serba susah. Jika ada orang berakal dan mencintai keadilan, maka hal itu
cukuplah bagi mereka sebagai dalil bahwa Jemaat
ini adalah benar dari Allah Ta’ala. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda sesuai
dengan ilham dari Allah Ta’ala seperti
telah pernah saya bacakan, “Akan tiba waktunya apabila orang-orang dari antara
mereka itu yang sekarang belum dapat mengenal kebenaran disebabkan pengaruh
hasutan orang-orang yang menamakan diri ulama atau karena pengaruh takut
terhadap mereka atau takut kepada undang-undang, akan merebahkan diri sujud
memohon ampun di hadapan Allah Ta’ala
dari semua dosa dan akan merasa bangga telah menggabungkan diri dengan ‘asyiq shadiq’ - pencinta hakiki
Rasulullah saw. Sedangkan orang-orang yang berfitrat buruk akan menyaksikan
akhir kesudahan diri mereka, apakah mereka akan menjadi cermin yang menakutkan
seperti keadaan musuh-musuh para nabi di zaman dahulu atau menjadi penentang
kebenaran selamanya. Seperti terdapat peringatan di banyak tempat dalam Alquranul Karim diantaranya Allah
Ta’ala berfirman,
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي
الأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ
كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللهُ
بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللهِ مِنْ وَاقٍ * ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ
كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللهُ
إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Apakah
mereka tidak bepergian di bumi supaya dapat melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum
mereka? Mereka itu lebih hebat kekuatannya dari pada mereka dan dilihat dari peninggalan-peninggalan
mereka di bumi juga lebih hebat, maka Allah membinasakan mereka disebabkan
dosa-dosa mereka. Dan tidak ada penyelamat bagi mereka dari azab Allah. Yang
demikian itu disebabkan rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan
tanda-tanda nyata, tetapi mereka telah ingkar, maka Allah membinasakan mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Kuat, keras dalam menghukum.”
(Surah
Al-Mu’min,
40 :
22-23)
Ilham-ilham Hadhrat
Masih Mau’ud as yang telah saya sebutkan, bukanlah da’wa (klaim, pengakuan) dari diri
beliau sendiri. Ilham-ilham ini menegaskan, “Allah Ta’ala
bersamaku dan Dia memberi kabar suka tentang
kemenangan-kemenangan yang diberikan
kepadaku.” Menisbahkan suatu perkataan kepada Allah Ta’ala adalah sebuah perkara yang
sangat besar. Allah Ta’ala
tidak mengampuni
orang yang menisbahkan suatu perkataan yang salah
terhadap Allah Ta’ala. Jadi, apabila
kita melihat dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala
kepada Hadhrat Masih Mau’ud as maka semua itu sungguh meningkatkan keimanan dan
keyakinan kita bahwa sebagaimana Allah Ta’ala
selalu bersama beliau dan menolong beliau sepanjang kehidupan beliau, maka di
zaman mendatang pun Dia akan selalu berbuat seperti itu kepada kita dan
Jemaat-Nya ini dan dengan karunia Allah Ta’ala
sekarang juga Dia selalu bersama kita. Dan sekarang juga hakikat dan
peristiwa-peristiwa yang terjadi tengah memberi dukungan bahwa Allah Ta’ala sedang menganugerahkan pertolongan-Nya kepada Jemaat ini. Sungguh, seperti nampak
dari ayat-ayat itu, para penentang nabi-nabi dan para penganiaya Jemaat Ilahi
selalu diberi tempo selama beberapa waktu oleh Allah Ta’ala, namun akhirnya pada suatu hari mereka akan ditangkap oleh
Allah Ta’ala. Maka apabila sudah tiba
waktunya bagi Allah Ta’ala untuk
menangkap mereka, maka tidak ada kekuatan, tidak ada kemampuan dan tidak ada
suatu bilangan mayoritas dapat menolong mereka. Dan sekarang para pelaku
kekerasan dan kezaliman atau para pembuat undang-undang terhadap orang-orang
Ahmadi atau orang yang menganggap orang-orang Ahmadi sebagai faqir (pengemis) atau dia yang
menyatakan Ahmadiyah adalah kanker dalam Islam, na’udzu billah, sebetulnya dia mempunyai kekuatan hanya sedikit
saja, ketika Tuhan telah menghancurkannya sedikitpun tidak ada tanda bukti yang
tersisa dari jasadnya. Sedangkan contoh-contoh [para pemimpin zalim masa lampau]
yang diberikan oleh Allah Ta’ala [lewat
Alquran] yang telah dibinasakan oleh
Allah Ta’ala jauh lebih kuat dan
tangguh dibandingkan para pemimpin yang sedang berlaku zalim terhadap kita
sekarang yang tidak mempunyai harta apapun. Untuk menjalankan
pemerintahan pun mereka mengemis mencari utang ke bangsa-bangsa lain. Inilah masa untuk berpikir bagi para pemimpin bangsa dan juga bagi masyarakat Pakistan bahwa tanpa
sadar mereka telah melibatkan diri dan bekerja sama dengan
para zalim dalam menentang Ahmadiyah sehingga dalam setiap surat resmi,
dokumen, sertifikat atau surat resmi apapun yang diperlukan oleh rakyat di
Pakistan dicantumkan kalimat caci maki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as lalu
dinyatakan disitu, “Jika anda seorang Muslim harus
tanda tangan diatas dokumen yang mengandung tulisan caci-maki itu!” Di pasar-pasar, di kompleks
pertokoan, di kantor-kantor atau di taman-taman
mereka memasang poster besar-besar bertuliskan segala jenis caci-maki yang
kotor terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan demikian semua orang telah terlibat dalam
perbuatan dosa yang sangat besar itu. Mereka
yang tinggal diam tanpa komentar pun tanpa
disadari terlibat dalam perbuatan dosa yang sangat besar itu. Atau mereka sudah
kehilangan kesopanan.
[7] Atau mereka sudah tidak meyakini Tuhan. Mengajukan orang-orang Ahmadi ke pengadilan dengan cara tidak benar dan dusta mereka
telah melakukan perbuatan yang betul-betul tidak disukai oleh Allah Ta’ala. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman, “Berlakulah adil sekalipun terhadap musuh kalian.
Berlakulah adil sekalipun terhadap orang-orang yang telah berbuat zalim
terhadap kalian dan janganlah kalian berbuat zalim terhadap mereka.” Namun
sebaliknya apa yang mereka lakukan itu. Betul-betul terbalik.
Allah Ta’ala
berfirman, dusta adalah syirik dan dusta
adalah sebuah najis dan dosa yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Akan tetapi perhatikanlah apa
yang mereka kerjakan itu! Kita orang-orang Ahmadi menunjukkan hakikat taqwa, kebaikan
dan hakikat ketinggian nama Allah dan Rasul-Nya. Saya akan ceritakan sebuah peristiwa yang akan menunjukkan lebih jelas
lagi bagaimana keadaan sebenarnya mereka itu. Beberapa hari yang lalu seorang
Ahmadi telah dituduh dalam sebuah kasus pembunuhan dan ia diseret ke pengadilan. Ketika para penjahat itu diingatkan, diberi pengertian, “Ini salah. Betapa zalim dan berlebihannya yang tengah kalian lakukan terhadap orang ini!” Maka para pendakwa dusta itu disebabkan pengaruh
para mullah berkata, ”Memang kami tahu perbuatan kami ini salah dan orang ini tidak
bersalah, tetapi karena dia seorang Ahmadi maka kami ajukan dia ke pengadilan.
Jika ia hari ini bertaubat dari Ahmadiyah dan mulai mencaci-maki Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad Qadiani, maka tuntutan kami akan ditarik kembali dari Pengadilan. Bahkan
kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskannya dari penjara. Apabila
sudah keluar dari penjara akan kami sambut dan kami kalungkan karangan bunga
pada lehernya.”
Beginilah keadaan mereka
itu. Walaupun demikian mereka menamakan diri Muslim tulen dan orang-orang Ahmadi adalah kafir. Berkata dusta
juga di pandangan mereka tidak ada nilai apa-apa.
Maka, “Wahai para
penentang Ahmadiyah! Takutlah kalian kepada Tuhan Yang di hadapan-Nya harta
kekayaan kalian, angan-angan kalian, takabbur kalian, kedudukan kalian sebagai
imam mesjid-mesjid, partai-partai politik kalian, pemerintahan kalian, bilangan
mayoritas kalian tidak ada nilai apa-apa. Jawaban kami terhadap semua kezaliman
yang kalian lakukan adalah jawaban yang Alquranul Karim berikan إنه قوي شديد
العقاب Innahu qawiyyun syadiidul ‘iqaab
– “Sesungguhnya
Dia sangat gagah perkasa dan Dia sangat keras sekali dalam memberi hukuman.”
Sekarang puncak kezaliman mereka sudah melanda sampai
kepada anak-anak sekolah Ahmadi kita yang masih tak berdosa. Iya, di sekolah-sekolah ada salah satu pengajaran untuk memperlakukan mereka, “Kamu harus
mencaci-maki Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani ‘alaihissalam!”[8] Jika ada seorang Kepala Sekolah atau
pemilik sekolah swasta menunjukkan sedikit kebaikan, maka dikatakan kepadanya
dengan ancaman; “Jika anak-anak Ahmadi diberi
izin sekolah kami
takkan mengirim anak-anak kami ke sekolah anda dan kami akan menuntut agar sekolah kamu ditutup dengan paksa!” Jika orang-orang baik itu tidak mau ikut kehendak
para Mullah atau kehendak para pembuat kerusuhan maka mereka itu mengancam sambil
memberitahu akibat-akibatnya. Pendeknya sebuah huru-hara sudah melanda Negara itu.
Dan para penguasa, para ahli politik demi kepentingan politik pribadinya,
disebabkan kelemahan dan ketidakmampuan mereka menjadi boneka permainan tangan
para mullah dan para pembuat
kerusuhan.
Jadi, sebagaimana telah saya katakan, apakah para
mullah atau para ahli politik palsu atau sebagai petugas Negara, siapa saja yang
terlibat dalam kezaliman ini harus ingat bahwa Allah Ta’ala شديد العقاب ‘syadiidul ‘iqaab’ – “sangat keras dalam memberi hukuman.” Bahasan
ini bukan cerita lama mengenai suatu bangsa,
melainkan tanda hidupnya Tuhan Yang Hidup atau tanda adanya Tuhan Pemilik
Segala kekuatan yang sekarang juga tetap berlaku.
Jadi, para penentang yang melakukan permusuhan dan
melampaui batas dalam melakukan permusuhan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as
harus ingat bahwa mengingkari hak dan
kebenaran yang telah dinubuatkan oleh Hadhrat Nabi saw dan juga terdapat dalam
Alquranul Karim yang mereka membacanya dengan penuh semangat atau menyatakan
diri membacanya, akibatnya mereka akan termasuk kelompok orang-orang yang berkesudahan
sangat buruk atau kesudahan buruk mereka akan disaksikan oleh orang-orang yang
datang kemudian atau akan menjadi peringatan yang menakutkan bagi kaum yang
akan datang dan disamping itu kejahatan apa lagi saat ini yang tidak sedang mereka
lakukan. Selain penganiayaan yang sedang dilakukan terhadap orang-orang Ahmadi segala jenis dosa dan maksiat sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Diantaranya makan uang suap,
bermacam dosa lainnya berupa perbuatan kotor, perbuatan tidak senonoh,
pelanggaran akhlak, pencurian, perampokan, perkelahian dan pembunuhan,
pendeknya setiap jenis keburukan muncul ke permukaan. Jadi, bukankah hal itu
semua pembangkit kemurkaan Allah Ta’ala?
Berpikirlah sedikit, wahai orang-orang ghafil
(lalai, tak sadar)!
Inilah doa kita, ‘Allah Ta’ala qaum par rahm farmae’ – “Semoga Allah Ta’ala mengasihani kaum ini!” Sekarang hanya orang-orang Ahmadi yang berkewajiban
untuk berusaha secara amal nyata menolong mereka demi simpati terhadap umat dan
demi simpati terhadap insaniyat (humanity, kemanusiaan) sekalipun mereka diperlakukan
berbagai macam keaniayaan. Lebih dari itu semua, orang-orang Ahmadi harus
selalu memanjatkan doa-doa kepada Allah Ta’ala.
Dimana secara amal nyata tidak dapat dilakukan, dimana tidak ada orang-orang
yang bersedia mendengar perkataan kita, dimana hanya dengan mengucapkan salam dituntut
ke pengadilan, disana orang-orang Ahmadi hendaknya melalui doa-doa memohon kepada
Allah Ta’ala untuk perbaikan umat.
Tidak ragu lagi,
sebagaimana telah saya katakan, Allah Ta’ala
akan menganugerahkan kemenangan dan kejayaan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Sebab, Allah Ta’ala
selalu memberi kemenangan dan kejayaan kepada para rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam Alquranul Karim, كَتَبَ اللَّهُ
لأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ ‘Kataballahu la-aghlibanna ana wa rusuli innallaha
qawiyyun ‘aziiz’ – “Allah
Ta’ala telah memutuskan; Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang, sesungguhnya
Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (Surah Al-Mujadalah,
58 : 22).
Sebagaimana jelas dari ayat ini bahwa keputusan
kemenangan itu ada ditangan Tuhan. Dan sarana untuk meraih kemenangan itu atau
dalil yang diberikan untuk meraih kemenangan itu telah diberitahukan oleh Tuhan
yaitu Kekuatan dan Keperkasaan Allah Ta’ala.
Jadi dalam hal ini terdapat pelajaran bagi kedua belah pihak baik bagi orang-orang mu’min maupun bagi orang-orang ingkar dan kafir, kedua belah pihak
harus merenungkannya. Kepada orang-orang Mu’min
telah diberitahu bahwa Allah Ta’ala
Yang memiliki semua kekuatan dan Gagahperkasa, Dialah yang telah memutuskan
bahwa Tuhan beserta Rasul-Nya akan menang. Maka kalian jangan melihat kelemahan
dan sedikitnya jumlah kalian, jangan mengira bahwa kami ini tidak mempunyai nilai apa-apa. Melainkan perkuatlah iman kalian dengan
banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala.
Habiskan tenaga kalian untuk mengikat hubungan dengan Allah Ta’ala seerat mungkin. Supaya kalian
termasuk kedalam kelompok orang-orang yang meraih kemenangan yang telah
dijanjikan Allah Ta’ala. Maka
laksanakanlah amal-amal saleh, laksanakanlah ibadah dengan baik dan dawam yang
menjadi tujuan diciptakannya kalian. Berusahalah terus untuk
meningkatkannya agar kalian menjadi bagian dari kemnangan. Kepada para
penentang kita ajukan tantangan; “Berusahalah
sekuat tenaga kalian, namun ingatlah bahwa Allah Ta’ala Maha Kuat, Maha Gagahperkasa. Dia telah memutuskan untuk
memberi kemenangan kepada Utusan yang dikasihi-Nya. Dia akan menganugerahkan
kemenangan insya Allah. Maka semua
makar kalian, semua rencana busuk kalian, semua tipu daya kalian, kegiatan
kalian mengusik dan mengacau anak-anak sekolah Ahmadi yang tak berdosa, semua
usaha jahat kalian mengganggu para pegawai dan para pengusaha Ahmadi,
usaha-usaha dusta kalian karena tunduk kepada para mullah mengajukan
orang-orang Ahmadi tak berdosa ke pengadilan, semua kejahatan kalian itu
sama-sekali tidak dapat menghalangi kemenangan Allah dan Rasul-Nya. Jika
berdirinya Jemaat ini hasil karya seorang manusia, maka pasti semua daya
kekuatan kalian untuk menghancurkannya sudah berhasil. Akan tetapi ini adalah
hasil karya Tuhan, pada akhir kesudahannya Takdir Tuhan pasti akan menang.
Jadi, apabila Allah Ta’ala
berfirman إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ
عَزِيزٌ ‘Innallaha qawiyyun ‘aziiz’ – “Allah Maha Kuat, Maha
Gagahperkasa” maksudnya
Tuhan mengumumkan, “Akulah yang melaksanakan
pekerjaan ini. Di sini bilangan minoritas atau mayoritas, mempunyai
banyak atau sedikit harta kekayaan, mempunyai banyak atau sedikit sarana atau
perlengkapan bagi orang-orang Ahmadi tidak mempunyai nilai apa-apa. Apakah kemenangan dalam perang Badar, atau kemenangan dalam perang Uhud atau dalam perang
manapun telah diperoleh karena lasykar Islam mempunyai banyak
harta kekayaan? Sungguh tidak demikian!” Satu
perkara yang sungguh-sungguh meyakinkan adalah bahwa sekalipun ada perjanjian
dari Allah Ta’ala, sekalipun ada
penegasan dari Allah Ta’ala,
sekalipun adanya tanda-tanda cemerlang dari Allah Ta’ala, walaupun dengan perlengkapan fisik yang sangat sedikit
Rasul Allah Ta’ala pasti berusaha
melakukan upaya-upaya lahiriah sesuai dengan sarana yang ada. Akan tetapi
perhatian utama beliau adalah terhadap doa-doa. Teladan sempurna dan paling utama untuk itu telah ditunjukkan
oleh Hadhrat Muhammad
Mushthafa saw. Perang Badr telah menampilkan pemandangan yang sangat agung
kepada kita. Sekalipun sudah ada semua kabar suka dan jaminan dari Allah Ta’ala yang membuat hati tenteram, namun
Hadhrat Nabi saw dengan sangat gelisah memanjatkan doa-doa sambil merintih
demikian rupa seakan-akan nyawa sedang keluar dari tenggorokan beliau saw.
Disebabkan rintihan doa-doa itu cadar berulang kali terjatuh dari bahu beliau. [9]
Maka apabila Allah Ta’ala telah mentakdirkan dengan firman-Nya;
Aku dan Rasul-Ku akan menang maka Rasul Allah juga terbenam dan melebur
dengan kamil (sempurna) kepada Allah Ta’ala
berusaha menjadi bagian dari perintah Ilahi dan sungguh beliau menjadi bagian dari itu. Kemudian quwwat
qudsiyah dan tarbiyyat Rasulullah
saw telah menciptakan para sahabat yang di waktu siang hari sibuk dengan jihad
di medan perang dan di waktu malam hari sibuk dengan ibadah kepada Allah Ta’ala. Jika ditinjau dari segi perlengkapan
duniawi setiap peperangan yang dilakukan oleh orang-orang Muslim pada waktu itu
sedikitpun tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan musuh. Akan tetapi hubungan
dengan Allah Ta’ala dan ibadah-ibadah
kepada-Nya serta terbenam dalam kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya telah
membuat mereka bagian dari kemenangan. Kita pun harus ingat bahwa sekalipun di waktu
siang hari terjadi serangan-serangan musuh atau terjadi peperangan, terjadi
keadaan yang sangat genting Hadhrat Rasulullah saw dan para sahabat beliau
tidak pernah lalai menunaikan shalat-shalat fardhu. Pernah terjadi suatu peristiwa disebabkan gencarnya serangan
dan penentangan musuh shalat-shalat fardhu tidak dapat
dilaksanakan. Dan waktu untuk shalat sudah berlalu. Dan akhirnya shalat-shalat fardhu itu dijamak dalam satu waktu. Pada waktu itu Rasulullah saw sangat
sedih sekali sehingga beliau berkata kepada musuh-musuh sambil berdoa buruk
bagi mereka, “Buruklah musuh! Celakalah musuh! Disebabkan ulah jahat mereka
terpaksa shalat kita jamak!” Jadi, beliau
saw tidak pernah merasa gelisah atau sedih karena kerugian jiwa atau harta. Dan
tidak pernah pula berdoa buruk bagi musuh-musuh. Namun mendapat kesempatan
berbuat demikian semata-mata disebabkan, “Saat ini musuh tidak memberi
kesempatan kepada kita untuk beribadah dan menundukkan kepala di hadapan Rabb
kami pada waktunya.” Sekalipun hati beliau saw selalu sibuk dengan zikir kepada
Allah Ta’ala. Bibir beliau selalu
bergerak setiap waktu berzikir kepada Allah Ta’ala.
Akan tetapi kesedihan karena terlepasnya waktu untuk menunaikan kewajiban tidak
tertahankan oleh beliau.
Maka, kita hendaknya ingat
bahwa sekalipun tanpa keraguan bahwa Allah Ta’ala
telah menjanjikan kemenangan akan tetapi menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala dan mematuhi ibadah-ibadah dengan
penuh perhatian sangat diperlukan sekali agar dapat menarik
karunia-karunia-Nya. Tanpa itu kita tidak dapat disebut pengikut Jemaat Rasul
Allah Ta’ala. Orang-orang yang
dianggap menjadi pengikut Jemaat Rasul Allah adalah yang banyak menaruh
perhatian terhadap ibadah-ibadah kepada Allah Ta’ala. Apabila kita menyaksikan kekerasan dan penganiayaan para
penentang Ahmadiyah, maka kita harus ingat bahwa untuk menjadi bagian dari
janji-janji Allah Ta’ala sekali-kali
kita tidak boleh lalai menunaikan ibadah kepada-Nya. Kedatangan Nabi dan Rasul
Allah ke dunia tiada lain untuk mengikatkan hubungan manusia
dengan Allah Ta’ala. Jika kita tidak
menjadi penjalin hubungan dengan Allah Ta’ala
bagaimana kita akan layak disebut Jemaat seorang Nabi. Bagaimana akan menjadi
bagian dari kemenangan-kemenangan yang telah ditetapkan bagi Nabi dan
Jemaatnya. Itulah maksud dari kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as. Jadi, hal itu semua harus selalu menjadi pusat
perhatian kita. Hadhrat Masih Mau’ud as dalam
pembukaan karya
tulis beliau ‘Kitabul Bariyyah’ bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat Gagah dan sangat Kuat.
Orang yang tunduk kepada-Nya dengan cinta dan patuh taat sekali-kali tidak
pernah disia-siakan. Musuh berkata, ‘Aku akan
membinasakannya dengan menggunakan siasat dan rencanaku.’ Dan orang yang
berpikiran buruk memiliki maksud, ‘Aku akan menghancurkannya.’ Akan tetapi Tuhan berfirman, ”Hai orang bodoh! Apakah kamu hendak berkelahi dengan Aku? Mampukah
kamu menjatuhkan kekasih-Ku dalam kehinaan? Sesungguhnya diatas bumi ini tidak
dapat terjadi suatu apapun, kecuali yang sebelumnya telah diputuskan di langit.
Dan tidak ada jangkauan tangan bumi dapat dipanjangkan sebagaimana jangkauan
tangan di langit telah dipanjangkan. Maka, orang-orang yang
membuat rencana kezaliman sangat bodoh sekali, yang ketika membuat rencana
jahat dan memalukan tidak ingat kepada Zat Yang Maha Mulia yang tanpa
perintah-Nya selembar daun pun tidak dapat jatuh dari tangkainya. Oleh sebab
itu, mereka selalu gagal dan membuat malu dalam rencana
dan makar jahat mereka. Dan kejahatan mereka sedikit pun tidak dapat mempengaruhi orang-orang yang tulus
dan jujur. Malah tanda-tanda Tuhan menjadi terbuka. Dan ma’rifat ruhani manusia semakin bertambah dan berkembang. Sekalipun
Tuhan Yang Maha Perkasa tidak dapat dipandang oleh mata lahiriah ini akan
tetapi Dia menunjukkan manifestasi-Nya melalui tanda-tanda-Nya yang sangat
ajaib.” [10]
Jadi, jika kita dengan cinta dan setia selalu tunduk
di hadapan Tuhan Yang Maha Kuat dan Dahsyat maka suatu perbuatan makar musuh
atau suatu usaha mereka insya Allah
Ta’ala tidak akan sampai merugikan Jemaat. Oleh sebab itulah pada beberapa
hari Jum’at yang lalu saya telah menganjurkan secara khusus kepada Jemaat untuk
memanjatkan doa-doa, ibadah-ibadah dan mengerjakan puasa nafal. Sebab, sekarang musuh-musuh sedang menyerang Jemaat Ahmadiyah
dengan menggunakan segala kekuatan yang ada pada mereka. Senjata kita yang paling besar dan sangat ampuh [efektif] hanyalah doa.
Penentangan terhadap Ahmadiyah yang sekarang sudah sampai ke tingkat
Internasional (antar bangsa, antar ngara), dimana sudah nampak bahwa Allah Ta’ala pun ingin menunjukkan
manifestasi-Nya lebih hebat dari sebelumnya dalam menzahirkan kemenangan-Nya dan
Dia insya Allah akan menunjukkannya. Sekarang
dunia Ahmadiyah juga harus bergerak maju, harus memperhatikan kewajiban yang
paling utama dan paling dicintai yaitu masing-masing diri melaksanakan ibadah-ibadah. Sebelumnya majukanlah (tingkatkanlah) hubungan yang erat dan kecintaan dengan Allah Ta’ala.
Semoga untuk itu Allah Ta’ala memberi
taufik kepada kita semua.
Adaa satu perkara yang ingin
saya sampaikan tentang ilham Hadhrat Masih Mau’ud as. "بعد 11 إن شاء الله" ‘ba’d
giyarah Insya Allah’ –
“Sesudah
sebelas Insya Allah.” [11]
Orang-orang
Ahmadi banyak yang memberi perkiraan tafsir sendiri terhadap ilham ini, banyak
juga yang menulis surat kepada saya [menanyakan
maksudnya]. Tentang itu Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri
bersabda, “Saya tidak tahu apakah artinya sebelas hari, sebelas
minggu, sebelas bulan atau sebelas tahun.” [12]
Bersabda, “Dalam
masa itu akan nampak
tanda kebebasan saya [bahwa saya tidak bersalah].”
Karena pada hari ini adalah tanggal 11 Nopember, Nopember juga bulan
11 dan tahun juga 2011. Oleh sebab itu, orang-orang Ahmadi berpikir tentang itu menurut pendapat mereka
masing-masing. Sesungguhnya, jika sesuatu telah ditetapkan
akan terjadi pada tanggal 11 bulan 11 tahun 11 ini maka insya Allah pasti ia
akan zahir. Akan tetapi
harus diingat, banyak sekali ilham-ilham yang mengandung janji suatu manifestasi rahmaniyyat-Nya, bantuan Allah Ta’ala, dukungan dan prtolongan menggunakan lafaz "بغتةً" ‘baghtatan’ – “segala-galanya akan
terjadi secara tiba-tiba, tanpa diduga.” Tidak jauh
dari tanggal-tanggal
ini, [tidak jauh] dari tanggal ini, [tidak jauh] dari hari ini, tanggal 11, bulan 11 dan tahun 2011 ini, takdir itu akan mulai berlaku. Akan tetapi kadangkala
orang-orang yang membuat perkiraan sendiri dan banyak yang bertabiat lemah,
jika tidak terbukti sesuai dengan apa yang telah ia perkirakan (sangkakan,
harapkan) sendiri, mulailah ia bersikap cemas dan putus asa. Atau akibatnya ia
bersikap kurang perhatian terhadap Allah Ta’ala.
Yang demikian itu bukan cara hidup orang mu’min,
bersikap putus asa. Kemenangan sudah meyakinkan dan ini adalah takdir Allah
Ta’ala. Insya Allah ia akan terjadi!
Bahkan, sedang trjadi. Penentangan terhadap Ahmadiyah dan keadaan para
penentang, misalnya perasaan dan pikiran mereka tidak menentu dan memang sedang
tidak menentu. Hal ini membuktikan dalil kemenangan dari Allah Ta’ala.
Sehubungan dengan itu saya ingin menyampaikan
sebuah perkara lagi bahwa Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra juga
ketika hendak hijrah dari Qadian ke Pakistan telah menulis bagaimana jalannya
hijrah itu. Pada waktu
itu sangat sulit sekali untuk mengambil keputusan kapan waktu berangkatnya.
Ketika itu rencana Hijrah sedang dipelajari. Beliau menulis, ”Saya sedang
menelaah ilham-ilham Hadhrat Masih Mau’ud as maka pada waktu itu saya jumpai
ilham ‘ba’d giyarah’ – “sesudah sebelas”. Saya anggap sudah yakin bahwa
hijrah akan terjadi. Kemudian masalah sarana transportasi dan yang lainnya
muncul, lalu dikarenakan soal tanggal [keberangkatan], pikiran saya menaruh perhatian
dengan tanggal 11. Akhirnya transportasi sudah dipersiapkan dengan susah payah.
Kemudian timbul halangan lagi dan pada hari yang telah ditentukan untuk
berangkat, pada waktu itu juga timbul tanda-tanda adanya hambatan. Waktu sudah
jam 10.00 dan Hadhrat Mirza Basyir Ahmad ra mengatakan, persiapan yang sedang
diatur ‘musykil’ – “Begitu sulit.” Akan tetapi Hadhrat Mushlih Mau’ud ra
bersabda, “Ilham tentang sesudah sebelas itu tetap tertanam dalam
pikiran saya, sesuai dengan ilham itu saya kira mungkin saja setelah pukul
11.00 hijrah akan berangkat. Maka tiba-tiba Allah Ta’ala menyediakan semua sarananya, itu semua terjadi secara
tiba-tiba. Dan setelah pukul 11.00 semua persiapan dan perlengkapan sudah
sempurna.” [13]
Dan
inilah Hijrah bersejarah yang terjadi dari Qadian ke Pakistan. [Ilham itu pun
sempurna dalam corak peristiwa Hijrah tersebut]. Akan tetapi ilham ini sudah
sempurna dalam bentuk lain lagi di banyak tempat. Seorang diktator yang
berusaha ingin menghapuskan Jemaat Ahmadiyah, ingin mencabut Ahmadiyah dari
akar-akarnya hingga musnah, akibatnya pemerintahan dia sendiri yang musnah dari
akar-akarnya. Dan ia musnah tepat 11 tahun setelah menjadi penguasa pemerintah.[14]
Masih banyak lagi
peristiwa-peristiwa lain telah terjadi yang sesuai dengan ilham ini. Dan
nubuatan-nubuatan serta ilham-ilham sempurna berkali-kali. Oleh sebab itu kita
harus mempunyai harapan agar dapat menyaksikan tanda-tanda yang lebih jelas dan
lebih cemerlang lagi.
Namun kita juga harus ingat, bersamaan
dengan ilham itu terdapat ilham dalam Bahasa Farsi juga yakni;
"بر مقام فلك شده يارب گر
اميدے دِهَم مدار عجب"
bar muqami falak syudah yaa Rabb
gar umiid e diham madaar ‘ajab
Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “(Allah Ta’ala
berfirman, ratapan tangis engkau telah sampai ke Langit. Sekarang jika Aku beri
suatu harapan dan kabar suka kepada engkau maka janganlah engkau heran, ia
tidak bertentangan dengan kecintaan dan sunnah-Ku.) Ba’d 11 (giyarah), insya
Allah. – “Setelah sebelas, insya Allah.” (Bersabda, ‘us
ki tafhiim nehi hui’ – “Saya tidak memahaminya.”)”[15]
Di sini
timbul pembicaraan tentang doa, yakni ratapan tangis sudah sampai ke
Langit. Kita harus menaruh perhatian keras terhadap doa seperti telah saya
katakan sebelumnya. Oleh karena itu, saya pun menekankan agar menaruh perhatian
terhadap doa, berdoalah sekuat tenaga, sekeras mungkin dengan ratap-tangis
sehingga ratapan kita sampai ke Langit sehingga Arasy bergoncang kemudian kita insya Allah Ta’ala akan segera menyaksikan pemandangan berupa
kemenangan-kemenangan, dan kita akan menyaksikan pula musuh-musuh putus asa.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik
kepada saya dan juga kepada semua untuk memanjatkan doa lebih banyak dari
sebelumnya.
Hari ini
setelah shalat saya akan memimpin dua shalat jenazah ghaib. Yang pertama adalah
seorang darweisy Qadian kita, yang terhormat tuan Coudhri Muhammad Shadiq
Nanggali putra yang terhormat Waryam Din Nanggali. Beliau ini pada 29 Oktober
jatuh dan mengalami patah tulang. Jantung beliau pun menderita sakit.
Pengobatan dan lain sebagainya sedang dijalani namun pada 5 November beliau
wafat. inna lillaahi wa inna ilaihi
raaji’uun. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pada saat membuat gerakan Darwisyi,
beliau sedang berumur masih sangat muda namun beliau mengatakan ‘Labbaik’ –
“Baik, kami bersedia mengikuti” dengan sangat ikhlas masuk dalam gerakan ini
dan sampai nafas terakhir telah dengan setia memenuhi janjinya. Beliau
berkhidmat di kantor-kantor markazi. Berkhidmat mengurus tanah-tanah Jemaat di
Qadian. Beliau seorang pekerja yang dermawan, cerdas, mukhlis. Sangat gemar
melakukan khidmat khalq. Susu,
sayuran, buah-buahan dan biji benih serta yang lainnya [yang beliau hasilkan
dari perkebunan dan peternakan beliau] apabila tersedia di rumah sehari-hari
beliau bagikan ke rumah-rumah lainnya tanpa mengharap balasan. Beliau sangat
memperhatikan orang-orang yang datang untuk Jalsah Salanah di Qadian. Beliau
mengeluarkan dana dan harta benda miliknya untuk kenyamanan, makanan dan
minuman mereka. Seorang mukhlis yang penuh kasih-sayang, rajin shalat dan puasa,
penyabar dan senantiasa bersyukur, senantiasa sederhana. Memberi tarbiyat
kepada anak-anak dengan baik. Seorang musi. Meninggalkan 4 orang anak. Salah satu
putranya, yang terhormat Doktor Muhammad Arif, melewatkan hidupnya sebagai officer Jalsah Salanah dan Nazir Baitul
Maal dan tahun lalu telah wafat. Semoga Allah Ta’ala meninggikan
derajat-derajat almarhum.
Jenazah
kedua, tuan Ahmad Yusuf al-Khaburi Syahid. Beliau ini sahabat Arab Syam
(Suriah). Beliau syahid bulan yang lalu. Dewasa ini di sana sedang terjadi
huru-hara [kerusuhan antara pendukung dan penentang pemerintah] yang
mensyahidkan beliau. Peristiwa pensyahidannya ialah seperti biasa beliau pulang
dari tempat kerja ke rumah pada waktu Ashar pada 31 Oktober 2011. Tempat yang
beliau lewati untuk sampai ke rumah adalah tempat yang sedang terjadi kerusuhan.
Sewaktu-waktu peluru senantiasa melesat. Orang-orang memperingati dan melarang
beliau agar tidak melewati daerah tersebut namun karena almarhum
memiliki kekurangan pendengaran, peringatan ini tidak beliau pahami dan tetap
melewati daerah itu. Saat sedang berjalan, peluru menembus kepala beliau dan
syahid di tempat. Beliau lahir pada tahun 1976. Sejak sekolah dasar ia giat
belajar. Pekerja yang rajin. Beliau belum menikah. Sudah 10 tahun sebelumnya, tabligh
Ahmadiyah sudah sampai kepada beliau namun belum mendapat taufik baiat hingga
November tahun yang lalu (2010). Tuan
Yunus, keponakan almarhum mengatakan, “Almarhum berbicara dengan saya mengenai
Jemaat yang sangat mengesankan hati saya. Karena pembicaraannya itu, saya baiat
lebih dahulu dibanding beliau yang mendapat taufik baiat sebulan kemudian.”
Saudari dan keponakan almarhum juga baiat atas pertablighan beliau. Almarhum
yang syahid ini sebelum baiat termasuk dalam golongan Alawiyah yang dengan sangat
tulus dan ikhlas mengambil baiat. Senantiasa mengikuti semua program Jemaat.
Almarhum memiliki akhlak yang sangat tinggi. Bertabiat sederhana dan teladan
yang sangat bersemangat menolong orang lain. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat almarhum, memperlakukannya dengan penuh pengampunan. Shalat jenazah untuk kedua almarhum insya Allah akan dilaksanakan setelah shalat Jum’at.
Alihbasa oleh Mln. Hasan Basri Shd
[1] Semoga Allah yang Mahaluhur mengokohkannya dengan
pertolongan-Nya yang agung
Fii hulalil anbiyaa-i (dalam jubah seluruh nabi) dalam terjemah Urdu ialah tamaam nabiyyong ke peraae me. Peraayah
menurut kamus Urdu : ornament (ornamen),
dress (baju), manner (kebiasaan), method
(metode) dan behaviour (kebiasaan).
[5]
Aasmani Faishlah, Ruhani Khazain jilid 4, halaman 342
[6]
Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22 halaman 702
[8]
Mereka seperti mengatakan, “Kalian orang Mirzai
adalah kafir. Kalian tidak boleh belajar di sekolah
ini. Hanya ada satu pilihan bagi kalian, boleh sekolah disini tapi kalian harus
mencaci-maki Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, kalau tidak pergilah dari sini!”
[9] Syarh al-‘Allamah az-Zurqani jilid II bab ghazwah Badr
al-Kubra halaman 281-282, Darul Kutub al-‘ilmiyyah Bairut, Lbanon, 1996
assalamualaikum
BalasHapuswa'alaikum salam kang..
Hapus